Apakah selamanya mimpi hanya sekedar mimpi?

Apakah selamanya mimpi hanya sekedar mimpi?

oleh: Karlina Noviasari | Organizational Development & Learning Specialist

Banyak yang bilang I got my life easy, salah satunya bisa S2 di luar negeri dan jalan-jalan keliling Eropa. Well, itu yang tampak di luar, gelar akademis dan foto pemandangan yang bagus. Bagian yang banyak orang tidak tahu adalah perjalanan dalam menyelesaikannya. Banyak challenges yang dihadapi, diantaranya adalah sistem pembelajaran baru seperti metode diskusi yang menuntut lebih asertif, ekspektasi dosen terhadap kualitas tugas dan jawaban ujian. Sifat pemalu dan overthinking yang dimiliki membuat saya tidak optimal mengikuti pelajaran dan menjalani ujian. Secara perlahan, insomnia pun datang karena tingkat stres yang meningkat. Saya menyadari apabila hal ini terjadi terus menerus akan berdampak buruk pada kesehatan dan aktivitas perkuliahan. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti program coaching dan sesi mindfulness di kampus untuk menghadapi tantangan tersebut. 

Proses realisasi bahwa saya butuh bantuan dan akhirnya mengikuti dua program diatas adalah tindakan meningkatkan kesadaran diri dalam emosional dan mental atau yang dikenal juga dengan personal development. Menurut Wikipedia, personal development adalah proses mengenali diri sendiri, mengembangkan kemampuan dan menetapkan tujuan untuk mencapai kualitas hidup yang lebih tinggi. Selain coaching, contoh personal development adalah mengikuti workshop, talkshow, atau seminar. 

Apa manfaat dari mengikuti kegiatan tersebut? Saya diajarkan bagaimana menyampaikan pendapat yang baik seperti mempersiapkan tulisan poin-poin penting yang ingin disampaikan secara berurutan. Selain itu, saya belajar mengendalikan emosi negatif yang muncul sebelum berbicara ataupun ketika menghadapi kejadian yang tidak menyenangkan. 

Kegiatan personal development yang saya lakukan juga sejalan dengan fokus Printerous yang memperhatikan pentingnya personal development para Printizen. Printerous mengimplementasikan metode belajar blended learning yang menggabungkan antara metode belajar offline dan online untuk mewujudkan semangat #belajarterous Printizen. Printerous ingin meningkatkan personal development Printizen dengan mengembangkan tidak hanya hard skills tetapi juga soft skills

Ada satu kisah menarik untuk menyakinkan bahwa IQ tinggi dan kepandaian tentang suatu bidang tidak akan cukup membawa pada kesuksesan, tetapi juga perlu ada soft skills. Diambil dari buku Outliers karangan Malcolm Gladwell, yang menceritakan tentang Chris Langan, seorang jenius Amerika, tetap hidup miskin karena dia tidak punya kemampuan komunikasi yang baik. Dia tidak mampu menarik perhatian profesornya dan menyadari kepandaiannya dalam kalkulus sehingga Chris Langan tidak pernah mendapatkan promosi untuk mendapatkan beasiswa. 

Saya ingin menutup cerita ini dengan hasil refleksi  bahwa “kesuksesan adalah buah dari pengembangan diri secara menyeluruh”. Seperti yang terjadi pada diri saya, seandainya saya tidak berlatih untuk menyuarakan pendapat dan mengendalikan stress, maka saya mungkin belum menyandang gelar Master sampai saat ini. Pada kasus Chris Langan, seandainya dia bisa berkomunikasi dengan baik dengan Profesornya, dia sudah dapat berbagi karya dari keilmuannya kepada orang lain. Menjawab pertanyaan saya diawal tentang “Apakah selamanya mimpi hanya sekedar mimpi?” Saya dengan yakin menjawab, “Tidak”. Seperti ucapan Thomas Jefferson, “If you want something you’ve never had, you must be willing to do something you’ve never done.” Jadi, lakukan hal yang berbeda mulai sekarang untuk mendapatkan hal yang tidak pernah kamu miliki.