Sebuah Renungan

Sebuah Renungan

Seruput kopi di sore hari setelah pulang kantor dengan seorang teman lama di sebuah kafe. Kopi yang sudah ada di atas meja belum sempat  diminum karena teman saya, sebut saja namanya Mendung, langsung curhat mengeluarkan unek-uneknya tentang reimbursement transportasi yang belum juga dibayarkan hingga hampir 3 minggu lamanya. 

Mendung : “Ih aku tu kesel banget Mba sama dia. Pas aku tanyain, dia bilang oya belum diurus coba hari Jum’at ingetin aku ya. Terus pas hari Jum’at aku ingetin dia dong eh ternyata masih belum diproses juga.”

Saya : “Biasanya kalau reimburse gitu berapa lama?”

Mendung : “Seminggu sih Mba dari pengajuan.”

Saya : “Udah lewat berarti ya? Kamu udah coba tanya kenapa lama prosesnya?” 

Mendung : “Dia bilang masih mau diajuin terus Mba karena dia masih sibuk daftarin BPJS dan ngurus pembayaran vendor kantor. Tapi kan aku udah ngajuin lama Mba dan berkasku udah komplit, masak ya nggak diurus-urus juga”

Saya : “Daftarin BPJS itu kadang nggak bisa langsung lho, kalau berkasnya belum lengkap nanti bolak-balik.”

Mendung : “Iya sih tapi kan ngajuin reimburse cuma tinggal diajuin ke atasannya. Aku udah nggak tanya-tanya lagi ke dia, udah males aku sama dia.”

Sebelum sempat saya berkomentar, Mendung membaca sebuah pesan di ponselnya. 

Mendung : “Eh Mba dia ngirim WA katanya pengajuanku sudah diproses jadi tinggal ditunggu aja, paling lambat besok akan ditransfer. Oya dia dia juga minta maaf karena prosesnya lama karena dia baru sempat urus sekarang dan atasannya juga baru kembali dari luar kota. Kemarin sibuk banget katanya.” 

Saya : “Jadi prosesnya lama itu nggak hanya gara-gara pekerjaannya banyak ya tapi karena ada faktor lain juga.”

Teman saya itu pun terlihat lebih ceria dan saya pun akhirnya dapat menikmati kopi yang belum sempat saya cicipi sambil termenung. Kadang kita sangat sibuk dengan urusan kita sendiri, seolah-olah hanya urusan kita yang paling penting dan mendesak sehingga tanpa  sadar kita kurang berempati kepada orang lain. Membuat kita selalu menuntut orang lain untuk mengerti permasalahan kita. Pada kenyataannya, semua orang juga memiliki masalah dan kepentingan masing-masing sehingga mereka juga ingin dimengerti. Sebelum mengeluarkan keluh kesah, coba pikirkan lagi: “Apakah hanya saya yang ingin dimengerti oleh orang lain? Sudahkah saya juga berpikir bahwa orang lain juga ingin dimengerti (sama halnya dengan saya)?”

Konsistensi Adalah Kunci

Konsistensi Adalah Kunci

oleh Karlina Noviasari | Organizational Development & Learning Specialist 

Hey Jude, don’t make it bad

Take a sad song and make it better

Familiar dengan lirik tersebut?

Lagu tersebut adalah salah satu karya The Beatles, band asal Inggris yang sering disebut sebagai band paling berpengaruh sepanjang masa. 

Siapa yang tak kenal The Beatles?

Band yang beranggotakan John Lennon, Paul McCartney, George Harrison, dan Ringo Starr mempunyai banyak lagu terkenal, mendapat banyak penghargaan, dan masuk ke dalam daftar 100 orang paling berpengaruh oleh majalah TIME (Wikipedia.com). Kesuksesan tersebut tak lepas dari aplikasi 10.000-hour rule untuk meraih kesuksesan. Dalam buku Outlier karya Malcolm Gladwell diceritakan bahwa The Beatles bermain di sebuah cafe di Hamburg dengan bayaran kecil selama 8 jam, 7 hari selama 1 minggu. Selama 1,5 tahun, The Beatles telah manggung selama 270 malam dan pada tahun pertama kesuksesan, mereka telah manggung selama 1200 kali. 

Jumlah yang sangat luar biasa untuk sebuah band, bahkan kebanyakan band saat ini tidak manggung selama itu sepanjang karir bermusik mereka. Saat manggung di Hamburg itulah The Beatles berkesempatan untuk melatih kondisi tubuh mereka dan berlatih berbagai macam aliran musik, membuat mereka lebih disiplin dan mempunyai kualitas panggung yang bagus, yang membuat mereka berbeda dari band-band yang lainnya. Pengalaman tersebut merupakan sebuah contoh nyata bahwa untuk menjadi seorang master dalam suatu bidang harus membutuhkan banyak waktu (jam terbang/latihan). 

Lalu apa yang bisa kita pelajari dari kisah ini?

The Beatles mengajarkan kepada kita bahwa kesuksesan bukanlah produk instan. Butuh kesabaran dan ketabahan untuk mencapainya, dan yang terpenting adalah konsistensi meskipun memiliki sumber daya yang terbatas.

Sumber:

Gladwell, M. (2008). Outliers: The Story of Success. New York: Hachette Book Group.

Apakah Perbedaan Itu Nyata Atau Hanya Sebuah Persepsi?

Apakah Perbedaan Itu Nyata Atau Hanya Sebuah Persepsi?

oleh Karlina Noviasari | Organizational Development & Learning Specialist

“Kok pendapat dia ga sama denganku?”

“Kok apa yang aku pikirin ternyata berbeda banget dengan pemikiran dia?” 

Pada umumnya kata “kok” ini muncul karena kita melihat kenyataan bahwa apa yang kita lihat, dengar, dan rasakan ternyata berbeda dengan orang lain lihat, dengar, dan rasakan. Kecenderungan ini muncul karena kita memiliki persepsi bahwa orang lain menilai sesuatu dengan cara yang sama dengan kita. Selisih atau perbedaan (diskrepansi) yang timbul antara kenyataan dengan persepsi tersebut dalam Psikologi disebut dengan reality gap

Reality gap ini muncul karena berbagai macam faktor diantaranya genetik, kebutuhan, atau pergaulan. Misalnya, bagi seseorang yang mempunyai tinggi badan 150 cm akan menganggap buku di rak paling atas akan sulit dijangkau karena terlalu tinggi. Tetapi, hal ini tentu akan berbeda bagi seseorang yang mempunyai tinggi badan lebih dari 170 cm. Perbedaan tinggi badan ini membuat kedua individu tersebut melihat lingkungan sekitar dari sudut pandang yang berbeda. 

Pada aktivitas sehari-hari termasuk dalam lingkungan kerja, kita juga sering mengalami reality  gap, diantaranya adalah perbedaan pendapat. Kita sering menganggap orang lain seolah-olah tidak mau mendengarkan atau kita memberikan judgement lebih awal tanpa melakukan konfirmasi terlebih dahulu. Akibatnya akan muncul perasaan kesal, marah, atau kecewa karena apa yang kita persepsikan berbeda dengan kenyataan. Jika kita sadar bahwa emosi negatif tersebut ditimbulkan oleh reality gap akibat persepsi diri sendiri, tentu dapat lebih mudah dalam menanganinya. 

Salah satu cara untuk mengatasi reality gap adalah dengan menerapkan metode active listening. Active listening melatih diri untuk tidak hanya mendengar dan merespon informasi berdasarkan sudut pandang diri, tetapi juga memberikan respon yang lebih komprehensif yaitu mendengar, memahami dan mengkonfirmasi apa yang orang lain katakan supaya informasi yang diterima sudah sesuai dengan apa yang mereka maksudkan.

Jadi apabila suatu saat nanti kita merasa bahwa kita atau orang lain mempunyai perbedaan, mari merenung sejenak dan dengarkan dengan lebih baik. “Mengapa ya dia pikirnya seperti itu?” Metode active listening bisa diterapkan sambil mengevaluasi perbedaan-perbedaan persepsi yang muncul. Ketika kita melakukan active listening, secara tidak langsung melatih diri untuk lebih berempati sehingga dapat memahami persepsi orang lain yang berbeda. Pada akhirnya, kita akan menyadari bahwa persepsi yang dimiliki oleh orang lain tidaklah benar-benar berbeda. Terkadang, kita hanya melihat sesuatu dari sudut pandang lain berdasarkan apa yang sudah dialami. 

Apakah selamanya mimpi hanya sekedar mimpi?

Apakah selamanya mimpi hanya sekedar mimpi?

oleh: Karlina Noviasari | Organizational Development & Learning Specialist

Banyak yang bilang I got my life easy, salah satunya bisa S2 di luar negeri dan jalan-jalan keliling Eropa. Well, itu yang tampak di luar, gelar akademis dan foto pemandangan yang bagus. Bagian yang banyak orang tidak tahu adalah perjalanan dalam menyelesaikannya. Banyak challenges yang dihadapi, diantaranya adalah sistem pembelajaran baru seperti metode diskusi yang menuntut lebih asertif, ekspektasi dosen terhadap kualitas tugas dan jawaban ujian. Sifat pemalu dan overthinking yang dimiliki membuat saya tidak optimal mengikuti pelajaran dan menjalani ujian. Secara perlahan, insomnia pun datang karena tingkat stres yang meningkat. Saya menyadari apabila hal ini terjadi terus menerus akan berdampak buruk pada kesehatan dan aktivitas perkuliahan. Akhirnya, saya memutuskan untuk mengikuti program coaching dan sesi mindfulness di kampus untuk menghadapi tantangan tersebut. 

Proses realisasi bahwa saya butuh bantuan dan akhirnya mengikuti dua program diatas adalah tindakan meningkatkan kesadaran diri dalam emosional dan mental atau yang dikenal juga dengan personal development. Menurut Wikipedia, personal development adalah proses mengenali diri sendiri, mengembangkan kemampuan dan menetapkan tujuan untuk mencapai kualitas hidup yang lebih tinggi. Selain coaching, contoh personal development adalah mengikuti workshop, talkshow, atau seminar. 

Apa manfaat dari mengikuti kegiatan tersebut? Saya diajarkan bagaimana menyampaikan pendapat yang baik seperti mempersiapkan tulisan poin-poin penting yang ingin disampaikan secara berurutan. Selain itu, saya belajar mengendalikan emosi negatif yang muncul sebelum berbicara ataupun ketika menghadapi kejadian yang tidak menyenangkan. 

Kegiatan personal development yang saya lakukan juga sejalan dengan fokus Printerous yang memperhatikan pentingnya personal development para Printizen. Printerous mengimplementasikan metode belajar blended learning yang menggabungkan antara metode belajar offline dan online untuk mewujudkan semangat #belajarterous Printizen. Printerous ingin meningkatkan personal development Printizen dengan mengembangkan tidak hanya hard skills tetapi juga soft skills

Ada satu kisah menarik untuk menyakinkan bahwa IQ tinggi dan kepandaian tentang suatu bidang tidak akan cukup membawa pada kesuksesan, tetapi juga perlu ada soft skills. Diambil dari buku Outliers karangan Malcolm Gladwell, yang menceritakan tentang Chris Langan, seorang jenius Amerika, tetap hidup miskin karena dia tidak punya kemampuan komunikasi yang baik. Dia tidak mampu menarik perhatian profesornya dan menyadari kepandaiannya dalam kalkulus sehingga Chris Langan tidak pernah mendapatkan promosi untuk mendapatkan beasiswa. 

Saya ingin menutup cerita ini dengan hasil refleksi  bahwa “kesuksesan adalah buah dari pengembangan diri secara menyeluruh”. Seperti yang terjadi pada diri saya, seandainya saya tidak berlatih untuk menyuarakan pendapat dan mengendalikan stress, maka saya mungkin belum menyandang gelar Master sampai saat ini. Pada kasus Chris Langan, seandainya dia bisa berkomunikasi dengan baik dengan Profesornya, dia sudah dapat berbagi karya dari keilmuannya kepada orang lain. Menjawab pertanyaan saya diawal tentang “Apakah selamanya mimpi hanya sekedar mimpi?” Saya dengan yakin menjawab, “Tidak”. Seperti ucapan Thomas Jefferson, “If you want something you’ve never had, you must be willing to do something you’ve never done.” Jadi, lakukan hal yang berbeda mulai sekarang untuk mendapatkan hal yang tidak pernah kamu miliki.